*tangisan pertama.
aku adalah perjaka berumur 25 tahun.hobi judi dan minum2. siva (nama samaran) adalah anak pak kyai yg terkenal di desa ku. badannya yang seksi meskipun tertutup kerudung itu membuatku ingin sekali memilikinya.tapi dengan latar belakangku yang pemabuk dan tukang judi pasti bapaknya takkan memberi restu. dengan berbagai cara aku membuat Siva cinta padaku dan mau menikah denganku bagaimanapun pendapat bapaknya. pertama kalinya aku melihat perempuan menangis gembira saat kunikahi. Siva memberi seribu alasan tentang ibadah kepada bapaknya agar mau menikahkan aku dengannya. dan Siva membuatku menang atas keinginan ku memiliki tubuh indahnya.
*tangisan kedua
aku bukan lelaki yang gampang bersyukur dan bertobat meskipun Siva dengar sabar dan telaten memintaku mengimaminya salat. aku tetap jadi pemabuk dan penjudi.tapi entah kenapa tak sedikitpun dia protes atas sikapku yang kasar saat mabuk dan meminta uang untuk judi padanya. malam ini 1 tahun sudah aku menikahinya. aku lihat Siva memasakanku makanan enak dan sambil menangis dia berkata "tadi bapak kesini, dia bertanya apa aku bahagia? aku menjawab iya, aku bahagia karena suami tetap menafkahiku dan tak mencoba-coba bermain dengan wanita lain" hatiku tersentuh, iba tapi tak begitu istimewa bagiku.
*tangisan ketiga.
istriku mulai membosankan. di tahun ke 4 pernikahanku tak juga aku punya anak. aku mulai tertarik dengan banyak wanita nakal yg sering dibawa teman judi ku. lebih seksi dan terbuka dari istriku pastinya. pernah sekali kulihat dia memergokiku dgn pelacur tapi dia hanya membuang muka.maka aku membawa pelacur itu tidur dirumah dan ku suruh istriku kluar rumah. Siva duduk termenung di depan dari jam 12-2 pagi.entah kasihan atau apa aku mengusir pelacur itu dan mengandeng Siva masuk ke dalam. Siva menangis, aku jengkel dan membentaknya "kenapa nangis? jeles lu" Siva menjawab "terima kasih mas tidak membiarkanku ketiduran diluar sampai pagi dan terlihat oleh tetangga. aku kwatir mereka akan mengolok-olok suamiku"
*tangisan keempat.
10 tahun menikah.tak lagi aku bermain wanita sejak itu. tapi judi dan mabuk masih jadi kegiatan rutinku. Siva berlari ke arahku siank itu, di tengah keramaian Siva menarik menjauh dari teman2ku. aku yang tak terima dan merasa malu di perlakukan begitu tanpa bertanya dan pikir panjang, kudorong badan Siva me arah jalan raya dan membuatnya tertabrak mobil. Siva harus kehilangan kedua kakinya karena aku. aku menangis dan memohon ampun padanya saat dia siuman seminggu setelah komanya, Siva menangis dan tersenyum. aku memohonnya tidak menangis lagi karenaku dan aku akan berubah demi dia. dengan bijak Siva berkata "inilah ibadahku, inilah amanat bapakku mas, buat kamu berubah. apapun resiko dan akibatnya aku terima dengan ihklas. aku sayang kamu karena ALLAH" aku memeluknya dan akan mengingatnya sampai aku mati istriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar